Selasa, 05 Oktober 2010

Potret orang yang bertakwa

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam." (QS. Ali Imron : 102)

Latihan pengendalian diri sebulan penuh di bulan Ramadhan baru saja kita lalui. Kita shaum (berpuasa) dengan penuh keimanan dan keikhlasan, karena sesuai dengan janji Allah, dengan berpuasa kita akan menjadi orang yang bertakwa (muttaqin). Orang yang bertakwa (muttaqin) adalah orang yang paling mulia disisi Allah (QS. Al Hujurat : 13). Bagaimana betul ciri orang-orang yang bertakwa itu? Banyak orang hanya bisa mengucapkan kata takwa, tetapi mereka tidak mengetahui akan arti dan maksudnya. Ironisnya, kata-kata takwa itu diucapkan orang hanya sekedar "pemanis" pidato atau ceramah.

Perkataan takwa ini berasal dari bahasa Al Quran, terambil dari akar kata "waqa" atau "ittaqa", yang menurut ilmu bahasa, antara lain berarti; takut, memelihara, menjaga dan menjauhi. Bertakwa kepada Allah, berarti memelihara dan menjaga diri dari perbuatan yang dimurkai-Nya.

Adapun maksud takwa menurut syariat Islam, seperti yang dirumuskan oleh Prof Afif at Tabbarah di dalam bukunya Ruhud Dienil Islamy ialah manusia takut (untuk melaksanakan) hal-hal yang dimurkai Allah SWT dan takut kepada hal-hal yang merusak diri sendiri, dan merusak kepada orang lain.

Dari uraian tersebut, kita dapat menyimpulkan, bahwa takwa itu mengandung tiga unsur yakni : 1. Menjauhkan diri dari perbuatan yang dimurkai Allah, 2. Menghindarkan perbuatan-perbuatan yang merugikan (memberikan mudharat) kepada diri sendiri, 3. Menjauhi perbuatan-perbuatan yang merusak atau merugikan orang lain.

Jika kita teliti dan dalami, begitu hebatnya orang yang telah menyandang predikat bertakwa (muttaqin). Itulah sebabnya di dalam Al Quran tidak sedikit imbauan dan seruan agar manusia selalu mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub), banyak-banyak mengingat Allah, dan kuncinya selalu taat menjalankan syariat agama.

Tidak kurang dari 250 kali pecahan kata-kata yang berasal dari akar kata "waqa" atau "ittiqa". Dari jumlah itu terdapat 79 kali perintah di dalam kitab suci umat Islam itu, yang menyuruh orang-orang beriman untuk bertakwa kepada Allah SWT.

Para ahli tafsir menyimpulkan, kalau ungkapan ayat Al Quran yang berjumlah 6666 ayat itu mau disimpulkan dalam satu perkataan saja, maka ungkapan itu sudah tercakup dalam perkataan "takwa" tersebut.

Kandungan Al Quran yang berintikan kata "takwa" banyak nilai (value) yang diperlukan kehidupan bermasyarakat. Diantaranya manusia dituntun untuk bersikap adil, punya pendirian yang teguh (istiqamah), suka memaafkan, suka menepati janji, memberi petunjuk untuk mengatasi suatu persoalan yang rumit, serta berpuluh-puluh nilai lainnya yang masuk dalam rangkaian budi pekerti seperti akhlak yang baik (akhlakul karimah).

Jika kita semua menyadari, bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam esensi, jiwa dan semangat "takwa" itu bersumber dari ajaran agama, dan berakar dari ayat-ayat Al Quran, maka sewajarnyalah kita berupaya untuk mencapai derajat "orang yang bertakwa" (muttaqin) yang selalu kita dengung-dengungkan.

Potret manusia yang bertakwa ditegaskan dalam satu rangkaian ayat Al Quran, yang artinya; "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Orang yang bertakwa itu yakni orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan suka memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji, mereka terus ingat kepada Allah, lalu memohon ampun, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah. Dan setelah tobat mereka tidak lagi meneruskan perbuatan keji itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali Imran : 133-135).

Dari kandungan ayat tersebut dapat disimpulkan, ada empat karakter utama yang harus dimiliki orang yang bertakwa, yaitu :

1. Menafkahkan sebagian hartanya dalam segala situasi dan kondisi, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit. 2. Dapat mengendalikan amarahnya, dan memaafkan orang-orang yang bersalah terhadapnya. 3. Sadar setelah melakukan sesuatu dosa, kemudian bertobat kepada Allah. 4. Tidak terus menerus melakukan perbuatan terlarang, yang diketahuinya perbuatan itu adalah dosa.

Berat memang untuk mencapai derajat takwa itu. Tidak semudah mengucapkannya. Itulah sebabnya orang yang bertakwa itu ditempatkan pada derajat yang teratas. Untuk mencapainya harus melalui beberapa tingkatan dulu. Yakni dari mereka yang disebut ikhsan, mukhlishin dan barulah muttaqin (orang yang bertakwa).


Penulis : HM. Syair.
Dikutip dari : Buletin Cahaya, Nomor 38 Tahun Ke-14 22 Syawal 1431 H / 1 Oktober 2010 M.
Diterbitkan oleh : Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan (PWM SumSel).
Selengkapnya...

Bohong yang dapat ditolerir

Bahwasanya ada 3 macam bohong yang dapat ditolerir atau diperbolehkan :
1. Berbohong dengan tujuan untuk menyenangkan hati istri atau suami. Semisal berbohong mengenai masakan istri.

2. Berbohong dengan tujuan untuk mendamaikan 2 orang atau golongan yang sedang berselisih. Misalkan dengan mengatakan kepada ke2nya bahwa masing-masing berbuat baik satu sama lain.

3. Berbohong dengan tujuan untuk menyelamatkan jiwa seseorang. Misalkan berbohong kepada penjahat yang akan membunuh orang lain dengan mengatakan orang tersebut (yang akan dibunuh) sedang pergi atau telah pindah tempat tinggal.


Dikutip dari : Salah satu ceramah Bapak H. Zainuddin MZ di salah satu media telekomunikasi suara di Palembang.
Selengkapnya...

Ensiklopedi - Ash Shoidu

Ash-Shaidu artinya memburu hewan, menurut istilah syara' : memburu hewan liar yang halal di makan dengan mempergunakan alat atau hewan yang lain.

Diatara ayat Al Quran tentang ash-Shaidu surat Al-Maidah ayat 96 : "Dihalalkan bagimu binatang buruan laut[442] dan makanan (yang berasal) dari laut[443] sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan."

[442] Maksudnya : binatang buruan laut yang diperoleh dengan jalan usaha seperti mengail, memukat dan sebagainya, termasuk juga dalam pengertian laut disini adalah sungai, danau, kolam dan sebagainya.

[443] Maksudnya : ikan atau binatang laut yang diperoleh dengan mudah, karena telah mati terapung atau terdampar di pantai dan sebagainya.

Berburu hewan liar yang halal biak hewan laut maupun hewan darat dibolehkan menurut Syariat Islam dan diatur caranya agar binatang itu jadi halal, tapi hewan liar di tanah haram Mekkah tidak boleh diburu, bolehnya memburu hewan liar adalah kalau perburuan itu bermaksud untuk mencari hewan yang akan dimakan atau disembelih sebagai makanan, adapun memburu binatang dengan tujuan hanya sekedar menguji kemampuan dan kelihaian menembak atau karena hobbi tidak dibolehkan, karena itu akan menghabiskan satwa dan akan mengganggu lingkungan, Rasulullah SAW melarang sahabatnya membunuh hewan kecuali untuk dimakan, atau hewan yang merusak. Disyaratkan bagi pemburu agar binatang buruannya halal dimakan, bahwa yang berburu itu orang Islam dan memulai melepas hewan buruannya atau alat buruannya dengan menyebut nama Allah, sebagaimana pesan Rasulullah SAW kepada Abi Tsa'labah waktu dia bertanya saya melewati tempat berburu kadang-kadang saya berburu dengan panah dan kadang kala dengan anjing yang terlatih, maka Rasulullah bersabda : "Apa yang kau buru dengan panah, lantas engkau sebut nama Allah maka halal kamu memakan, dan apa yang kau buru dengan anjing yang tidak terlatih berburu, lalu kamu dapati hewan itu masih hidup halal bagimu memakannya kalau kamu sembelih." (HR. Bukhari Muslim)

Tidak Boleh Membunuh Hewan Dengan Tujuan Hobi
"Janganlah kamu menjadikan (membunuh) sesuatu hewan yang bernyawa dengan tujuan menguji kemampuan menembak dengan baik."

Keterangan : Berdasarkan hadits shahih Riwayat Bukhari-Muslim yang diterima dari Ibnu Abbas yang menceritakan tentang larangan Nabi membunuh hewan tanpa tujuan di makan tapi karena tujuan mencoba kemampuan atau karena hobi.


Dikutip dari : Buletin Cahaya, Nomor 18 Tahun Ke-14 22 Jumadil Awal 1431 H / 7 Mei 2010 M.
Diterbitkan oleh : Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan (PWM SumSel).
Selengkapnya...

Hidup di dunia hanya sementara

Setiap muslim harus menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Hidup yang kekal adalah di akherat kelak. Dan Allah menciptakan manusia untuk mendiami bumi ini adalah untuk mengabdi kepada-Nya.

Oleh sebab itu, manusia harus selalu bersiap-siap untuk meninggalkan dunia ini. Jangan hanya terlena dengan kemampuan dunia yang sesaat ini. Seorang muslim yang beriman akan selalu ingat dengan akhir hidup ini. Dan ia akan mempersiapkan bekal untuk hari akhirat dengan banyak melaksanakan amal-amal yang baik serta selalu taat beribadah kepada Allah.

Dunia bukanlah tempat bermain-main dan bersenda gurau belaka, akan tetapi juga tempat yang tepat untuk menanam dan berinfestasi agar dapat menuai dan beruntung di hari kemudian.

Banyak orang yang berlama-lama berpanjang kalam/kata hingga mulut berbusa membicarakan persoalan dunia. Namun mereka melupakan dan mengabaikan kepada yang mengurus dunia (Allah Sang Pencipta).

Ketika ada orang-orang yang membela kebenaran dan berusaha menegakkan keadilan justru dianggap sebagai musuh penguasa dan penghambat kemajuan. Di buru, di kejar hingga ke liang semut untuk di tangkap dan dipenjarakan. Namun pecandu narkoba, pecinta kemaksiyatan dan kedzaliman dibiarkan terus tumbuh dan berkembang sulit disentuh peradilan.

Bencana alam yang terjadi dengan segala bentuknya seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, badai, dll. Tidak membuat manusia sadar dan mau introspeksi untuk mau memahami dan mau mengerti terhadap semua itu, akan tetapi justru mereka tetap dalam kedzalimannya.

Banyak manusia tidak berpikir dan tidak sadar bahwa alam itu juga memiliki hukum-hukum dalam bentuk rantai sistem. Maka ketika salah satu mata rantai sistem itu diputus oleh tangan manusia maka akan terjadilah bencana. Salahkah apabila alam itu marah ketika mereka didzalimi manusia?

Kedzaliman adalah musuh Allah, apabila dibiarkan maka Allah akan turun tangan untuk memberi peringatan. Nabi SAW bersabda : "Orang-orang dzalim itu tidak akan lepas dari siksaan Allah dan begitulah adzab Tuhanmu yang sangat pedih dan keras." (HR. Muslim)

Allah SWT berfirman : "Dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang-orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa." (QS. As Sajdah : 22)


Penulis : Emsya Dalimo.
Dikutip dari : Buletin Cahaya, Nomor 18 Tahun Ke-14 22 Jumadil Awal 1431 H / 7 Mei 2010 M.
Diterbitkan oleh : Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan (PWM SumSel).
Selengkapnya...

Mencari rezeki yang halal

"Apabila ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS. Al Jumu'ah : 10)

Mencari rezeki adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh semua manusia, karena hal itu berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hajat hidup seseorang. Dalam mencari rezeki, agama memberikan yang bersifat mutlak dan harus diperhatikan, agama memerintahkan bahwa rezeki yang dicari harus diikuti dan ditaati oleh seseorang. Apalagi proses mencari rezeki berkaitan langsung dengan hubungan kemanusiaan, dimana dalam hubungan itu sikap saling membutuhkan dan menguntungkan harus terbina dengan baik.

Ketika mencari rezeki, jasad lahiriyah (anggota tubuh) merupakan media utama yang dapat diamati secara langsung, dan semua aspeknya anggota tubuh itulah yang memberikan gambaran bagaimana kesungguhan keikhlasan, tanggung jawab dan kejujuran seseorang dalam melakukan pekerjaan. Ketika dikaji lebih mendalam bahwa ada peran unsur ruhani yang lebih dominan ketimbang sesuatu yang tampak dari pandangan mata.

Inilah keseimbangan yang menjadi ciri khas dan manhaj islam, yaitu : keseimbangan antara tuntutan kehidupan dunia yang terdiri dari pekerjaan, kelelahan, aktivitas dan usaha dengan proses ruh yang mengasingkan diri dari suasana yang menyibukkan dan melalaikan itu disertai dengan konsentrasi hati dan kemurnian dan berzikir. Hal ini sangat penting bagi kehidupan hati dimana tanpanya hati tidak akan memiliki hubungan, menerima dan menunaikan beban-beban amanat yang besar itu.

Jadi, zikir kepada Allah SWT disela-sela aktivitas mencari rezeki dan penghidupan, dan merasakan kehadiran Allah didalamnya. Itulah yang mengalihkan aktivitas kehidupan kepada ibadah. Namun sesungguhnya (bersama dengan itu) masih harus pula menyediakan waktu khusus untuk melakukan kegiatan berzikir, melepaskan diri dari segala aktivitas, memurnikan niat hati sebagaimana diisyaratkan ayat diatas.

Irak Bin Malik ra. bila telah selesai shalat Jum'at, dia segera bangkit pulang dan di depan pintu dia berhenti untuk berdo'a : "Ya, Allah, sesungguhnya aku telah memenuhi panggilan-Mu, Telah aku laksanakan shalat yang menjadi kewajibanku dari-Mu. Dan aku pun hendak bertebaran dimuka bumi sebagaimana Engkau perintahkan. Maka anugerahkanlah rezeki kepadaku dan karunia-Mu, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki." (Riwayat Ibnu Abi Hatim)

Gambaran ini melukiskan kepada kita betapa Irak melaksanakan perintah itu dengan sungguh-sungguh, dengan penuh kesederhanaan. Kesadaran yang sungguh-sungguh, jelas dan sederhana ini, itulah yang mengangkat kemunitas sahabat kepada kedudukan yang diraihnya, walaupun bersama dengan itu masih ada bekas-bekas daya tarik jahiliyah dan diri mereka, sebagaimana yang tergambar dari ayat terakhir dari surah ini, yang artinya : "Apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (khutbah). Katakanlah, apa yang ada disisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan. Allah sebaik-baiknya pemberi rezeki." (QS. Al-Jumu'ah : 11)

Jabir ra. berkata : "Ketika kami sedang menunaikan shalat (Jum'at) bersama Rasulullah, tiba-tiba datanglah kafilah dagangan yang membawa makanan, maka orang-orang pun menuju kepadanya, sehingga tidak tersisa lagi bersama Rasulullah melainkan hanya ada dua belas orang, diantaranya Abu Bakar dan Umar ra. Maka turunlah ayat ke 11 diatas". Pada ayat ini terdapat isyarat bagi mereka bahwa semua yang ada disisi Allah adalah lebih baik dari permainan dan perdagangan. Ia juga mengandung peringatan bagi mereka bahwa sesungguhnya rezeki itu dari Allah SWT semata-mata.

Bagi seseorang yang betul-betul beriman, mereka menyakini bahwa Allah SWT tidak akan melupakannya. Janji Allah SWT bahwa Dia (Allah) akan mendatangkan rezeki itu dari segala penjuru dan jalan yang tidak diduga, menjadikan mereka lebih optimis meraih kebahagiaan dunia dan akherat. Ketika bekerja kesungguhannya akan nampak dari mekanisme dan semangat yang ia miliki, dan manakala panggilan untuk ibadah mengumandangkan (Azan), maka mereka akan meninggalkan sejenak pekerjaannya untuk memenuhi panggilan itu.

Manakala bekerja pun ketekunan, kejujuran, keikhlasan dan kedisiplinan akan tampak dalam diri mereka, sebagai buah manifestasi iman yang ada di dalam dadanya. Ketika ia menerima uang diluar pendapatan rutinnya, maka ia akan menelaah itu halal atau haram. Kesadaran mereka begitu tinggi, sehingga mereka menyadari bahwa rezeki yang tidak halal sesungguhnya akan berpengaruh pada watak dan kepribadian anak-anaknya ketika uang ini dijadikan barang konsumsi.


Penulis : MR. Solihin.
Dikutip dari : Buletin Cahaya, Nomor 18 Tahun Ke-14 22 Jumadil Awal 1431 H / 7 Mei 2010 M.
Diterbitkan oleh : Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan (PWM SumSel).
Selengkapnya...

Rabu, 25 Agustus 2010

Istimewanya Seorang Wanita

Kaum feminis bilang susah jadi wanita (baca: muslimah), lihat saja peraturan dibawah ini:

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.

Itu sebabnya banyak yang berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA".and look....

1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiarkan terserak bukan? Itulah perbandingannya dengan seorang wanita.

2. Wanita perlu taat kepada suami. Bahwa sesungguhnya lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada bapaknya.

3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi bahwa harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya. Sementara apabila lelaki menerima warisan, ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.

4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.

5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan mempertanggungjawab kan terhadap 4 wanita, yaitu : isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 4 syarat saja, yaitu: shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.

7. Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnyakepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.


Masya ALLAH! Demikian sayangnya ALLAH pada wanita.

Ingat firmanNya, bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan segala upaya, sampai kita ikut/tunduk kepada cara-cara/peraturan yang diproduct. Bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia, sehingga segala hukum-Nya/peraturan-Nya, adalah YANG TERBAIK bagi manusia dibandingkan dengan segala peraturan yang diproduct.

Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar kita (kaum lelaki)berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu.

Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih anak perempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah Yang baik, maka surga adalah jaminannya.

Berbahagialah wahai para muslimah. Tunaikan dan menegakkan agamamu, niscaya surga menanti

Di kutip dari facebook
Selengkapnya...

Rabu, 11 Agustus 2010

3 Cara Allah SWT Mengawasi

Karena takut didatangi pencuri, maka warga suatu perumahan menyewa penjaga atau hansip.

Tetapi terkadang pencurian masih terjadi walau hansip sudah dibayar. Hal ini bisa terjadi bila hansip tersebut lengah atau ketiduran, sehingga si pencuri bisa melakukan aksinya.

Hansip juga manusia!
Bagaimana dengan Yang Maha Mengetahui? Allah SWT mengawasi manusia 24 jam sehari atau setiap detik tidak ada lengah. Didalam melakukan pengawasan, ada 3 cara yang dilakukan Allah SWT:

1. Allah SWT melakukan pengawasan secara langsung. Tidak tanggung-tanggung, Yang Menciptakan kita selalu bersama dengan kita dimanapun dan kapanpun saja. Bila kita bertiga, maka Dia yang keempat. Bila kita berlima, maka Dia yang keenam (QS. Al Mujadilah 7). Bahkan Allah SWT teramat dekat dengan kita yaitu lebih dekat dari urat leher kita."Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. Qaaf 16)

2. Allah SWT melakukan pengawasan melalui malaikat. "ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri." (QS. Qaaf 17) Kedua malaikat ini akan mencatat segala amal perbuatan kita yang baik maupun yang buruk; yang besar maupun yang kecil. Tidak ada yang tertinggal. Catatan tersebut kemudian dibukukan dan diserahkan kepada kita (QS. Al Kahfi 49).

3. Allah SWT melakukan pengawasan melalui diri kita sendiri. Ketika kelak nanti meninggal maka anggota tubuh kita seperti tangan dan kaki akan menjadi saksi bagi kita. Kita tidak akan memiliki kontrol terhadap anggota tubuh tersebut untuk memberikan kesaksian sebenarnya."Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." (QS. Yaasiin 65)

Kesimpulannya, kita hidup tidak akan bisa terlepas dimanapun dan kapanpun saja dari pengawasan Allah SWT. Tidak ada waktu untuk berbuat maksiyat. Tidak ada tempat untuk mengingkari Allah SWT. Yakinlah bahwa perbuatan sekecil apapun akan tercatat dan akan dipertanyakan oleh Allah SWT dihari perhitungan kelak.

Wallahu a'lam bish showab.

Gatot H. Pramono diolah dari Ceramah Ust. Zaki
Selengkapnya...

Keutamaan Shalat Terawih

Keutamaan shalat tarawih atau shalat tahajud pada bulan Ramadhan ini disebutkan dalam sebuah hadis sebagai berikut.

Dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa dia berkata: Nabi SAW ditanya tentang keutamaan-keutamaan tarawih di bulan Ramadhan.

Kemudian beliau bersabda; Orang mukmin keluar dari dosanya pada malam pertama, seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.

Dan pada malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.

Dan pada malam ketiga, seorang malaikat berseru dibawah 'Arsy: "Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat".

Pada malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan (Al-Quran).

Pada malam kelima, Allah Ta'ala memberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjidil Haram, masjid Madinah dan Masjidil Aqsha.

Pada malam keenam, Allah Ta'ala memberikan pahala orang yang berthawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.

Pada malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa a.s. dan kemenangannya atas Fir'aun dan Haman.

Pada malam kedelapan, Allah Ta'ala memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrahim a.s.

Pada malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat kepada Allah Ta'ala sebagaimana ibadatnya Nabi SAW.

Pada Malam kesepuluh, Allah Ta'ala mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.

Pada malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.

Pada malam keduabelas, ia datang pada hari kiamat sedang wajahnya bagaikan bulan di malam purnama.

Pada malam ketigabelas, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.

Pada malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.

Pada malam kelima belas, ia didoakan oleh para malaikat dan para penanggung (pemikul) Arsy dan Kursi.

Pada malam keenam belas, Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dankebebasan masuk ke dalam surga.

Pada malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.

Pada malam kedelapan belas, seorang malaikat berseru, "Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha kepadamu dan kepada ibu bapakmu."

Pada malam kesembilan belas, Allah mengangkat derajat-derajatnya dalam surga Firdaus.

Pada malam kedua puluh, Allah memberi pahala para Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh).

Pada malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya sebuah gedung dari cahaya.

Pada malam kedua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.

Pada malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.

Pada malam kedua puluh empat, ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.

Pada malam kedua puluh lima, Allah Ta'ala menghapuskan darinya azab kubur.

Pada malam keduapuluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.

Pada malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.

Pada malam keduapuluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.

Pada malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.

Dan pada malam ketiga puluh, Allah berfirman:"Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku" (HR Majalis).

Demikianlah, keutamaan shalat tarawih yang disebutkan oleh Rasulullah SAW

Dikutip dari salah satu catatan facebook seseorang
Selengkapnya...

Selasa, 10 Agustus 2010

Ensiklopedi - Taqlid

Taqlid artinya meniru, mengikuti, menurut syara', taqlid adalah mengamalkan suatu ibadah mahdhah dengan tidak mengetahui dasar/dalilnya yang bersumberkan Al Qur'an dan Sunnah.

Melakukan suatu ibadah hanya dengan meniru dan mengikuti orang lain, apakah karena dibiasakan orang dan sudah menjadi tradisi atau hanya sekedar meniru apa yang diwarisi dari nenek moyang, mereka berprinsip inilah yang kami dapatkan dari nenek moyang, kami hanya meniru apa yang mereka lakukan.

Dalam beribadah Islam mengajarkan kita berittiba' (mengikuti) kepada Rasulullah SAW artinya kita ikuti dan kita amalkan karena kita tahu bahwa apa yang kita kerjakan itu ada dalam ayat Al Qur'an atau hadist Rasulullah SAW, walaupun kita tidak hafal ayat atau hadist tersebut sebagaimana firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 31 : "Katakanlah : "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Taqlid melakukan ibadah akan merugikan orang yang melakukannya, mereka nanti akan menyesal atas perbuatannya, sebagaimana diingatkan Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 167 artinya : "Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti : "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.

Syirik Dalam Beribadah
"Dari Abu Hurairah yang diridhai Allah dia berkata, bersabda Rasulullah SAW : Aku maha kaya dari persekutuan dalam perbuatan syirik, barangsiapa yang beramal suatu amal mempersekutukan-Ku, Aku tinggalkan dia dan amal syiriknya." (HR. Muslim).


Dikutip dari : Buletin Cahaya, Nomor 30 Tahun Ke-14 18 Sya'ban 1431 H / 30 Juli 2010 M.
Diterbitkan oleh : Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan (PWM SumSel).
Selengkapnya...

Mencintai Al Qur'an

Al Qur'an sebagai kitab suci umat Islam merupakan pedoman hidup seorang muslim. Jika ia mengaku sebagai muslim yang beriman, maka ia akan selalu mencintai Al Qur'an. Mencintai Al Qur'an bukan hanya sekedar membacanya, tapi menghayati makna serta tafsir yang terkandung didalamnya, untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kehidupan manusia adalah sebuah panggung sandiwara dan manusia itu sendiri adalah pemainnya dan sutradaranya adalah Allah pemilik segala Maha. Barang siapa dapat memainkan perannya sesuai dengan skenario yang ditentukan oleh sang sutradara, maka mereka akan dapat menjadi pemain yang handal. Dan Al Qur'an adalah teks skenario yang harus diikuti oleh segenap manusia agar mereka dapat hidup tenang dan damai.

Karena itu untuk dapat meraih hidup bahagia dan sejahtera di akhirat dan untuk sampai kepada hidayah Allah, maka kita harus melakukan sebagai berikut :

1. Iman dengan sepenuh hati bahwa Al Qur'an adalah benar-benar wahyu Allah untuk petunjuk manusia.

2. Menumbuhkan kecintaan terhadap Al Qur'an dengan memiliki, mengagumi, membaca dan memahami makna yang terkandung didalamnya.

3. Berusaha mencari tafsir, ta'wil terhadap ayat yang kita baca sehingga kita benar-benar tahu maknanya yang terkandung pada setiap ayat yang kita baca.

4. Berusaha mengamalkan di dalam kehidupan sehari-hari, dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara terhadap ayat-ayat yang sudah diketahui.

5. Adanya rasa takut terhadap kutukan/adzab Allah jika kita mendustakan ayat-ayat-Nya.

6. Mengajarkan kepada orang lain sehingga mereka yang tidak tahu akan menjadi tahu. Karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang belajar Al Qur'an dan berusaha mengajarkannya.

7. Menumbuhkan rasa bangga terhadap Al Qur'an bahwa dialah yang terbaik diantara kitab-kitab yang ada di dunia ini.

Beruntunglah jiwa-jiwa yang tenang, karena mereka akan dipanggil dengan rela dan diliputi kerelaan, mereka akan mendapatkan pengakuan Tuhan sebagai hamba pilihan-Nya. Dan mereka akan mendapatkan syurga sebagai balasan, dan sebaik baik balasan dari sisi Allah pemilik tahta kerajaan. Alangkah bangga dan bahagianya tatkala hati dan jiwa yang muthmainnah itu dipanggil Allah dengan mesra dan kasih sayang.


Penulis : Emsya Dalimo.
Dikutip dari : Buletin Cahaya, Nomor 30 Tahun Ke-14 18 Sya'ban 1431 H / 30 Juli 2010 M.
Diterbitkan oleh : Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan (PWM SumSel).
Selengkapnya...

Menghindari stress dengan konsep Islam

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka jadi tentram dengan mengingat Allah SWT. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah SWT hati menjadi tentram." (QS. Ar Ra'd : 28)

Hidup yang tentram, damai dan sejahtera serta mendapat berkah dari Allah SWT adalah dambaan setiap muslim. Hanya saja untuk meraih hidup yang tenang dan penuh berkah itu tidak semudah kita membalikkan telapak tangan. Beragam problema hidup menjadi membuat orang jadi resah dan gelisah. Resah dan gelisah itu menjadikan hati seseorang tidak tenang, yang kadang-kadang menjelma jadi putus asa dan stress, depresi atau mengalami goncangan jiwa.

Menurut ajaran Islam, guna mewujudkan ketenangan dan ketentraman jiwa(sakinah), ada beberapa hal yang perlu dilakukan:

1. Mulailah keseharian kita dengan mengingat dan menyebut nama Allah SWT. Begitu bangun tidur kita ucapkan Alhamdulillah. Berkat nikmat dan rahmat-Nya, kita dibangunkan-Nya dari tidur. Bagi yang sempat shalat tahajjud laksanakan shalat tahajjud. Lalu shalat Shubuh tepat waktu. Berangkat kerja niatkanlah karena Allah, sehingga apapun tugas kita akan bernilai ibadah disisi-Nya.

2. Kapanpun dan dimanapun kita bertugas selalu ingat dengan kewajiban kita sebagai seorang muslim yakni shalat lima waktu. Tidak ada alasan apapun bagi seorang muslim untuk tidak menunaikan shalat karena shalat adalah tiang agama. Tidak bisa berdiri, boleh shalat dengan duduk. Tak mampu duduk boleh dengan berbaring. Jika tak kuasa lagi menggerakkan tubuh kita maka boleh shalat dengan isyarat. Begitu pentingnya mendirikan shalat.

3. Ingatlah selalu dengan Allah SWT (zikrullah) di manapun kita berada. Ingatlah bahwa yang menentukan hidup mati kita adalah Dia. Jika kita gagal menggapai cita-cita seperti menjadi legislator, ingatlah semuanya itu adalah ketentuan Allah SWT.

4. Selalulah bersikap optimis dan tidak mudah putus asa karena Islam melarang umatnya berputus asa. Setiap muslim harus menyakini benar bahwa setiap makhluk yang ada di muka bumi ini ditanggung oleh Allah SWT rezekinya.

Apabila keempat hal ini mampu kita aplikasikan dalam keseharian kita, maka insya Allah hidup kita akan tenang dan terhindar dari depresi atau stress, gangguan jiwa.

Agar bisa melaksanakan konsep-konsep Islam tersebut kita harus mampu menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dengan kebutuhan rohani. Dalam memenuhi kebutuhan jasmani, Allah SWT mengingatkan kita jangan melupakan kebahagiaan di dunia. Kita boleh bekerja keras agar mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga kita. Bahkan kalau bisa ada kelebihan sehingga kita mampu pula untuk berzakat atau bersedekah kepada saudara-saudara kita yang tidak mampu.

Namun kita jangan pula melupakan akhirat. Kebutuhan rohani harus pula dicukupi dengan selalu taat menjalankan perintah Allah SWT. Orang-orang yang mengalami goncangan jiwa, depresi atau stress karena rohaninya kosong. Rohaninya tidak diisi dengan kegiatan yang bernuansa mental spiritual.

Mengisi rohani dengan kegiatan spiritual tidak hanya dengan beribadah kepada Allah SWT, tetapi juga lewat kegiatan amal shaleh lainnya. Jika kita diberi Allah SWT kelebihan rezeki maka kita sisihkan sebagian untuk berinfak fi sabilillah, seperti membantu fakir miskin, membantu pembangunan rumah peribadatan, madrasah dan lain sebagainya. Dengan menerapkan pola hidup seimbang itu, insya Allah hidup kita diberkahi oleh-Nya, yakni hidup tentram (sakinah), hati yang tenang dan penuh optimis serta terhindar dari depresi, stress, dan keputusasaan.


Penulis : HM. Syair.
Dikutip dari : Buletin Cahaya, Nomor 30 Tahun Ke-14 18 Sya'ban 1431 H / 30 Juli 2010 M.
Diterbitkan oleh : Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan (PWM SumSel).
Selengkapnya...