Selasa, 10 Agustus 2010

Mencintai Al Qur'an

Al Qur'an sebagai kitab suci umat Islam merupakan pedoman hidup seorang muslim. Jika ia mengaku sebagai muslim yang beriman, maka ia akan selalu mencintai Al Qur'an. Mencintai Al Qur'an bukan hanya sekedar membacanya, tapi menghayati makna serta tafsir yang terkandung didalamnya, untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kehidupan manusia adalah sebuah panggung sandiwara dan manusia itu sendiri adalah pemainnya dan sutradaranya adalah Allah pemilik segala Maha. Barang siapa dapat memainkan perannya sesuai dengan skenario yang ditentukan oleh sang sutradara, maka mereka akan dapat menjadi pemain yang handal. Dan Al Qur'an adalah teks skenario yang harus diikuti oleh segenap manusia agar mereka dapat hidup tenang dan damai.

Karena itu untuk dapat meraih hidup bahagia dan sejahtera di akhirat dan untuk sampai kepada hidayah Allah, maka kita harus melakukan sebagai berikut :

1. Iman dengan sepenuh hati bahwa Al Qur'an adalah benar-benar wahyu Allah untuk petunjuk manusia.

2. Menumbuhkan kecintaan terhadap Al Qur'an dengan memiliki, mengagumi, membaca dan memahami makna yang terkandung didalamnya.

3. Berusaha mencari tafsir, ta'wil terhadap ayat yang kita baca sehingga kita benar-benar tahu maknanya yang terkandung pada setiap ayat yang kita baca.

4. Berusaha mengamalkan di dalam kehidupan sehari-hari, dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara terhadap ayat-ayat yang sudah diketahui.

5. Adanya rasa takut terhadap kutukan/adzab Allah jika kita mendustakan ayat-ayat-Nya.

6. Mengajarkan kepada orang lain sehingga mereka yang tidak tahu akan menjadi tahu. Karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang belajar Al Qur'an dan berusaha mengajarkannya.

7. Menumbuhkan rasa bangga terhadap Al Qur'an bahwa dialah yang terbaik diantara kitab-kitab yang ada di dunia ini.

Beruntunglah jiwa-jiwa yang tenang, karena mereka akan dipanggil dengan rela dan diliputi kerelaan, mereka akan mendapatkan pengakuan Tuhan sebagai hamba pilihan-Nya. Dan mereka akan mendapatkan syurga sebagai balasan, dan sebaik baik balasan dari sisi Allah pemilik tahta kerajaan. Alangkah bangga dan bahagianya tatkala hati dan jiwa yang muthmainnah itu dipanggil Allah dengan mesra dan kasih sayang.


Penulis : Emsya Dalimo.
Dikutip dari : Buletin Cahaya, Nomor 30 Tahun Ke-14 18 Sya'ban 1431 H / 30 Juli 2010 M.
Diterbitkan oleh : Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan (PWM SumSel).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar