Senin, 11 Oktober 2010

Dampak positif ibadah puasa

Sesudah sebulan lamanya ummat Islam digodok dalam pusdiklat(pusat pendidikan dan latihan) puasa Ramadhan, maka dengan inayah Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih dapat diharapkan bahwa kaum Muslimin berhasil di tempa dengan tabiat dan watak utama, diantaranya : mempunyai citra dan cita-cita, disiplin, patuh dan taat (loyal), rendah hati (tawadhu'), sabar, penyantun, sehat dan segar, dan lain-lain watak utama, yang merupakan syarat esensial dalam kehidupan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan.

Dampaka positif dari ibadah puasa Ramadhan itu menjalin hubungan manusia yang bersifat vertikal (menjulang) dengan Rabbul Jalali, disamping hubungan yang bersifat horizontal (mendatar dan meluas) dengan sesama makhluk, terutama makhluk manusia.

Dengan menghayati nilai-nilai psikologis dan sosiologis yang terkandung dalam ibadah puasa seperti diuraikan di atas, hendaknya kaum Muslimin di seluruh dunia, termasuk Indonesia, harus lebih banyak melakukan mawas diri atau instrospeksi tentang keadaan dan posisi mereka di tengah-tengah percaturan dalam segala bidang kehidupan, baik bidang keagamaan, bidang politik, ekonomi, budaya dan lain-lainnya.

Seperti diungkapkan di atas, Allah SWT telah menjanjikan kedudukan yang baik kepada kaum Muslimin. Kedudukan yang baik dalam arti yang hakiki dan seluas-luasnya, yaitu baik dalam segala bidang kehidupan, di bidang politik, ekonomi dan lain-lainnya, sehingga bukan saja mengenyam kebaikan itu untuk diri mereka sendiri, tetapi juga memberikan kebaikan kepada orang lain, menjadi rahmatan lil-'alamin, menjadi karunia untuk seluruh ummat manusia.

Ada orang yang mengatakan bahwa ummat Islam dewasa ini bukan menjadi orang yang baik dan melimpahkan kebaikan kepada keadaan disekitarnya, tetapi hanya menjadi "orang yang baik-baik", bersikap "baik-baik" ke kiri dan ke kanan, sehingga hilang semangat, kurang mempunyai gairah, tidak kreatif, tidak integratif, bahkan bersikap isolatif, mengucilkan diri sendiri. Tidak kelihatan gerak kebersamaan. Dalam menghadapi tantangan-tantangan yang membawa akibat kelemahan kaum Muslimin, dihadapi sendiri-sendiri, jarang dibicarakan secara bersama-sama, realitasnya terpecah-pecah simpang siur. Padahal Al Quran memperingatkan : "Berpegang teguhlah kepada tali Allah, jangan bercerai-berai." (QS. Ali Imran : 103).

Sebagian ummat Islam sudah merasa puas, bahwa pada waktu ini ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) terjaga baik : tidak mempersoalkan lagi apakah shalat-tarawih sebelas raka'at atau duapuluh tiga ra'kaat; tidak mempersalahkan lagi apakah shalat Jum'at memakai satu azan atau dua adzan; tidak memperbincangkan lagi apakah shalat Subuh memakai doa qunut atau tidak, dan bermacam-macam soal khilafah yang di zaman "baheula" senantiasa menimbulkan perpecahan, tafarruq.

Akan tetapi, tafarruq yang didatangkan dari luar dalam bentuk "gazwul-fikri"(pergumulan pemikiran) dan yang seumpamanya, yang mengalihkan perhatian ummat Islam kepada soal-soal yang tidak relevan dengan kepentingan ummat, dibiarkan begitu saja, atau masa bodoh.

Apabila posisi kaum Muslimin pada waktu ini di seluruh dunia pada umumnya belum mencapai kedudukan seperti yang dijanjikan oleh Allah SWT itu, maka bukanlah karena Allah tidak menepati janjinya, sebab Allah SWT tidak pernah menyalahi janji. (3 : 9)

Dinyatakan oleh orang-orang yang beriman dengan penuh keyakinan, bahwa orang-orang yang berjuang mengembangkan ajaran agama, menegakkan kebenaran dan keadilan, mereka itu akan diberikan kedudukan yang mulia dan terhormat, baik di dunia ini maupun di akherat kelak. Di dunia ini kaum pejuang itu akan bertahta di dalam hati rakyat banyak, dicintai oleh ummat pengikutnya, dikenang jasa dan kebaikannya sepanjang zaman. Adapun di akhirat nanti, mereka dinilai sebagai Syuhada' yang mendapat tempat yang tenteram, aman dan damai di sisi Ilahi.


Penulis : HM. Syair.
Dikutip dari : Buletin Cahaya, Nomor 35 Tahun Ke-14 24 Ramadhan 1431 H / 3 September 2010 M.
Diterbitkan oleh : Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan (PWM SumSel).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar