Senin, 14 Juni 2010

Iptek dan imtak harus seimbang

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al Mujaadillah : 11).

Pembangunan nasional kita, adalah pembangunan manusia seutuhnya, yakni pembangunan fisik-material dan pembangunan bidang mental spiritual. Pembangunan kedua bidang ini harus seimbang, sehingga pencapaian masyarakat yang adil-makmur, akan cepat terwujud.

Pembangunan fisik-material yang di dalamnya tercakup pembangunan ekonomi, telah memberikan dampak langsung terhadap perkembangan masyarakat termasuk "kesalehan" dan "ketaatan" umat. Lebih-lebih masyarakat berhadapan pula dengan keterbukaan arus informasi yang bersifat global, sehingga menimbulkan goncangan semakin hebat.

Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, juga terasa mempengaruhi tata krama, akhlak, serta pandangan (visi) manusia Indonesia, terutama para generasi penerus kita.

Paradigma tata nilai masyarakat, khususnya umat islam ini, harus diantisipasi dengan (Imtak) yang mewujudkan manusia yang taat dan shaleh, merupakan modal dasar dalam pembangunan manusia seutuhnya. Tanpa imtak manusia dalam kehidupannya akan rapuh dan keropos. Manusia yang rapuh dan keropos, jelas tidak akan mampu membangun, mulai dari rumah tangganya, hingga membangun bangsa dan negara ini.

Ajaran Islam tidak melarang penganutnya untuk menguasai Iptek. Bahkan sebaliknya, seorang muslim harus menguasai ilmu pengetahuan yang banyak. Ayat pertama dalam Al Quran yang diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, dimulai dengan perintah "membaca".

"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al Alaq : 1-5).

Allah telah menggariskan, bahwa dengan tulis (kalam) dan baca, manusia akan memiliki ilmu. Manusia yang berilmu "Teknologi" yang canggih sekarang ini, diakui atau tidak telah membawa banyak "kemungkinan". Kemungkinan itu sekarang tidak lagi datang dijalanan di luar rumah, tetapi telah menyelinap masuk kamar atau rumah tangga kita masing-masing. Yang jadi sasaran serangan dari pengaruh teknologi canggih ini, adalah benteng keimanan yang ada dalam dada masing-masing pribadi kaum muslimin Indonesia akan punya wawasan dan pikiran yang luas. Untuk itulah, seorang muslim harus punya ilmu pengetahuan yang banyak, Rasulullah telah mengisyaratkan dalam salah satu hadistnya : "Dengan ilmu, manusia akan mencapai kebahagian di dunia. Dengan ilmu juga manusia akan mencapai kebahagiaan di akhirat kelak. Dan dengan ilmu pula akan bisa mencapai kedua-duanya."

Iman dan Takwa
Namun demikian, di samping memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia juga dituntut untuk selalu ingat (zikir) dengan Sang Pencipta, yakni Allah SWT. Maksud "ingat" pada Allah disini adalah melaksanakan segala perintah-Nya, dan meninggalkan segala perbuatan yang dilarang-Nya. Untuk ingat dengan Allah itu, dada kita haruslah diisi dengan rasa keimanan dan ketakwaan. Iman itu artinya percaya akan kekuasaan serta kebesaran Allah, dan takwa itu artinya enggan untuk berbuat yang dimurkai-Nya.

Perkataan takwa itu berasal dari bahasa Al Quran terambil dari akar kata "waqad" atau "ittaqa", yang menurut ilmu bahasa Arab antara lain berarti : takut, memelihara, menjaga, dan menjauhi. Bertakwa kepada Allah berarti memelihara dan menjaga diri dari perbuatan yang dimurkai Allah.

Adapun maksud takwa menurut syari'at Islam seperti yang dirumuskan oleh Pro Afif At Tabbarah di dalam bukunya "Ruhud dienil islami" ialah : "Manusia takut (untuk melaksanakan) hal-hal yang dimurkai Allah SWT, dan takut kepada hal-hal yang merusak diri sendiri dan hal-hal yang merusak kepada orang lain." Jadi takwa itu mengandung tiga unsur.

Pertama, menjauhkan diri dari perbuatan yang dimurkai Allah. Kedua, menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang merugikan (mendatangkan mudarat) kepada diri sendiri. Dan ketiga, menjauhi perbuatan-perbuatan yang akan merusak atau merugikan orang lain.

Bila kita amati dan teliti, hebat sekali orang yang telah menyandang predikat takwa (muttaqin). Itulah sebabnya di dalam Al Quran tidak sedikit imbauan dan seruan, agar manusia selalu mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah, banyak-banyak ingat kepada Allah. Kuncinya, harus taat menjalankan syari'at agama. Dan itu pulalah sebabnya, tidak kurang dari 79 kali di dalam Al Quran, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman, untuk selalu bertakwa kepada-Nya.

Apabila kita sudah mengamalkan semuanya itu, berarti kita sudah termasuk orang yang memiliki iptek dan imtak. Hanya orang-orang yang menguasai iptek dan imtak, yang akan memperoleh kehidupan yang bahagia di dunia dan bahagia di akherat kelak. Dan akan terkabullah doa yang selalu kita ucapkan : "Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan hidup di dunia, dan kebahagiaan hidup di akhirat serta hindarkan kami dari siksaan api neraka."


Penulis : HM. Syair.
Dikutip dari : Buletin Cahaya, Nomor 56 Tahun Ke-13 20 Shafar 1431 H / 5 Februari 2010 M.
Diterbitkan oleh : Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Selatan (PWM SumSel).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar